Sabtu, 05 Juni 2010

Sandiwara Langit


Resensi “Sandiwara Langit”

Judul buku : Sandiwara langit
Genre : Novel Islami (diangkat dari kisah nyata)
Penulis/pengarang : Abu Umar Basyir
Penerbit : Shofa Media Publika
Cetakan pertama : April 2008


Tokoh utama dan karakter dalam cerita :

Rizqaan : Pemuda berusia 20 tahun, seorang yang soleh dan taat. Rajin mengikuti pengajian oleh seorang udztad yang kemudian menjadi penasehatnya. Seorang lulusan SMU yang tidak memiliki pekerjaan, berasal dari keluarga miskin, yang ingin menikahi Halimah.

Halimah : Seorang putri remaja berusia berusia 19 tahun. Baru saja menyelesaikan SMUnya. Seorang putri yang taat beragama, berjilbab meski sempat dilarang oleh orang tuanya. Ia merupakan keluarga yang berkecukupan.

Sang Udztad : penasehat Rizqaan, tempat mengadukan semua masalahnya utamanya masalah hubungannya dengan keluarga Halimah. Cerita ini menggunakan sudut pandang orang ketiga (third Person Point of View) dimana sang udztad merupakan pihak ketiga yang menceritakan kisah Rizqaan

Tokoh lain :
Ayah dan ibu Rizqaan yang mendukung setiap keputusan anaknya.
Ayah Halimah yang mengajukan syarat kepada Rizqaan sebelum menikahi putrinya.
Ibu Halimah : seorang istri yang terlalu penurut.
Asyraf : Kakak laki-laki pertama Halimah yang tidak menyetujui pernikahan adiknya. Seorang yang hedonism.
Ja’far : Kakak laki-laki kedua Halimah yang mendukungnya.


RINGKASAN ISI :

Ceritanya dimulai dari seorang udztad yang didatangi seorang pemuda (Rizqaan), ketika usai memberikan pengajian, yang ingin menanyakan keinginannya untuk menikah.
Rizqaan berniat menikahi Halimah, putri dari seorang yang hidupnya berkecukupan. Rizqaan kemudian mendatangi keluarga Halimah dan melamar. Lamaran ini diterima sang Ayah tetap ia mengajukan syarat yang tidak lazim. Syaratnya adalah jika sepuluh tahun kemudian Rizqaan tidak dapat membuat putrinya hidup dalam kemapanan materi maka Rizqaan harus menceraikan putrinya. Rizqaan harus menceraikannya dengan suka rela dan janji itu harus diucapkan pada saat akad nikah.
Dengan syarat itu, Rizqaan pun menikahi Halimah dan mereka bersama-sama melewati hari-hari sulit. Rizqaan kemudian mengawali usahanya dengan berdagang roti keliling. Dengan melewati berbagai rintangan yang berat Rizqaan berhasil menjadi pedagang roti yang berhasil. Mereka pun telah memiliki pabrik, rumah, dan mobil sendiri meski masih jauh dari kategori “mapan” yang dimaksud sang mertua.

Sembilan tahun pernikahan mereka lalui dengan normal diiringi perkembangan usaha Rizqaan yang semakin baik dan menjanjikan perkembangan yang lebih baik lagi hingga musibah itu datang. Sebuah gempa mengguncang dan kebakaran menghancurkan rumah beserta seluruh miliknya dan merenggut nyawa ayahnya, tepat pada waktu dua hari menjelang “deadline” perjanjiannya dengan sang mertua.
Cara berkisah Abu Umar Basyir tidak seperti novel-novel pada umumnya. Buku ini lebih banyak berisi dialog antara Rizqaan dan sang udztad dalam bentuk narasi atau kisah dan disertai ayat-ayat Al Qur'an serta Hadist yang berhubungan dengan cerita.

The wise words in this story
Kalimat berhikmah favorit :


Untuk memulai bekerja tidak perlu harus menunggu pekerjaan tetap . Mulailah dengan pekerjaan yang bisa kamu lakukan
.

Kerja keras tidak selalu berujung kaya, kemalasan tidak selalu berujung pada kemiskinan tetapi ALLAH menghargai orang yang berusaha, bekerja keras, dan memeras keringat demi mencapai apa yang diinginkannya.

Kesabaran adalah meneguk air pahit tanpa meringis kepahitan (Imam Al Junaid)

SPONSORED by :